AntarSport.com, Jakarta – Dalam dunia sepak bola, rivalitas bukan sekadar cerita masa lalu. Ia tumbuh, diwariskan, dan terus menyala lintas zaman. Perasaan cinta pada klub sendiri kerap berjalan beriringan dengan kebencian terhadap lawan, menciptakan atmosfer pertandingan yang sarat emosi.
Bagi para pendukung fanatik, rivalitas justru menjadi bumbu utama yang membuat laga terasa lebih panas. Harga diri, gengsi, dan kebanggaan dipertaruhkan selama 90 menit, bahkan jauh sebelum peluit kick-off dibunyikan.
Namun, rivalitas juga memiliki sisi gelap. Tak jarang, konflik antarsuporter berubah menjadi aksi kekerasan yang merenggut korban jiwa, baik di dalam stadion maupun di luar arena pertandingan. Ketika persaingan melampaui batas sportivitas, sepak bola kehilangan esensinya sebagai hiburan yang menjunjung fair play.
Meski demikian, sejarah mencatat rivalitas-rivalitas besar tetap bertahan dan seolah tak pernah padam. Dari Eropa hingga Amerika Latin, bahkan Afrika, duel klasik selalu menjadi magnet perhatian dunia. Berikut lima rivalitas klub sepak bola paling ikonik yang telah mengakar kuat selama puluhan tahun.
1. Boca Juniors vs River Plate (Argentina)

Tak berlebihan jika laga Superclásico disebut sebagai pertandingan impian bagi banyak pencinta sepak bola dunia. Pertemuan Boca Juniors dan River Plate bukan hanya soal sepak bola, melainkan simbol identitas dan kebanggaan nasional Argentina.
Atmosfer luar biasa selalu terasa di La Bombonera maupun El Monumental, dengan nyanyian, kembang api, dan tekanan mental yang ekstrem. Ketegangan memuncak pada final Copa Libertadores 2018, ketika laga leg kedua harus dipindahkan ke Madrid akibat insiden penyerangan terhadap bus tim Boca.
Di antara banyak rivalitas di Argentina, duel ini dianggap paling panas dan tak tertandingi, menjadikannya salah satu persaingan terbesar dalam sejarah sepak bola dunia.
2. Celtic vs Rangers (Skotlandia)

Derbi Glasgow mempertemukan dua klub yang mewakili perbedaan tajam dalam aspek agama, politik, dan identitas sosial. Celtic identik dengan komunitas Katolik dan nasionalisme Irlandia, sementara Rangers diasosiasikan dengan Protestan dan loyalisme terhadap Inggris.
Perbedaan tersebut menjadikan rivalitas ini jauh melampaui urusan lapangan hijau. Dominasi mereka di sepak bola Skotlandia juga sangat mencolok, dengan total lebih dari 100 gelar liga berhasil dikoleksi secara gabungan.
Sejak pertemuan pertama pada tahun 1888, duel ini dikenal sebagai salah satu derbi tertua dan paling sarat tensi di dunia.
3. Barcelona vs Real Madrid (Spanyol)

Meski berasal dari kota berbeda, Barcelona dan Real Madrid terikat dalam rivalitas legendaris yang dikenal sebagai El Clásico. Persaingan ini berakar dari sejarah politik Spanyol, termasuk era Perang Saudara yang membentuk identitas kedua klub.
El Clásico kerap menyuguhkan drama di dalam dan luar lapangan. Salah satu momen paling dikenang terjadi pada 2002, ketika Luis Figo—mantan pemain Barcelona—kembali ke Camp Nou dengan seragam Madrid dan disambut hujatan ekstrem dari publik tuan rumah.
Dengan deretan pemain bintang dan kualitas permainan kelas dunia, duel ini terus menjadi tontonan global hingga kini.
4. Partizan Belgrade vs Red Star Belgrade (Serbia)
Dikenal sebagai Derbi Abadi, pertemuan Partizan dan Red Star Belgrade merupakan salah satu rivalitas paling keras di Eropa. Kedua klub berdiri pada tahun 1945 dan sejak awal telah terlibat persaingan yang dipengaruhi latar belakang politik dan sosial.
Laga mereka hampir selalu diwarnai ketegangan tinggi, baik di tribun maupun di luar stadion. Catatan pertemuan menunjukkan dominasi tipis Red Star, namun duel ini selalu sulit diprediksi.
Bagi masyarakat Serbia, derbi ini bukan sekadar pertandingan, melainkan bagian dari sejarah dan identitas nasional.
5. Al Ahly vs Zamalek (Mesir)
Rivalitas terbesar di Afrika ini mempertemukan dua klub raksasa asal Kairo. Meski Mesir memiliki populasi sekitar 100 juta jiwa, laga Al Ahly kontra Zamalek mampu menyedot puluhan juta penonton televisi setiap kali digelar.
Sejarah mencatat sejumlah insiden serius akibat bentrokan suporter, bahkan pernah menyebabkan kompetisi domestik dihentikan sementara. Di atas lapangan, Al Ahly lebih dominan dengan koleksi gelar liga dan trofi Liga Champions Afrika yang jauh lebih banyak.
Namun, Zamalek tetap menjadi pesaing utama yang kerap menjadi penghalang dominasi rival sekotanya tersebut.
Penutup
Rivalitas dalam sepak bola adalah bagian dari denyut nadi olahraga paling populer di dunia ini. Selama masih dijaga dalam koridor sportivitas, persaingan akan selalu menghadirkan cerita, emosi, dan drama yang membuat sepak bola tak pernah kehilangan pesonanya.












